Hideki Shirakawa

Selasa, 30 Agustus 2011 | | 0 comments

Dou shiyou…shashin toritai naaa… (Duh, gimana ya..pengen minta foto sama-sama deh..)” Beberapa orang berjalan mondar-mandir sambil membisikkan hal yang sama di seputar seorang kakek yang berdiri di tengah ruangan. Kalau dilihat sekilas, ia tidak ada bedanya dengan beberapa kakek dan bapak-bapak lainnya di ruangan resepsi IBM Science Award, penyelenggara, sponsor, juri dan penerima hadiah, sama seperti dirinya, memakai jas dan dasi dengan bersematkan pita merah besar yang bertuliskan nama mereka masing-masing. Hanya saja di sekitar kakek yang satu ini, orang-orang tidak putus-putusnya berkerumun. Jumat, 28 November 2003 yang lalu, professor saya bersama beberapa akademiawan lainnya diundang untuk hadir di IBM Science Award, yang disponsori oleh, tentu saja, IBM. Sebuah penghargaan tahunan yang diberikan kepada para ilmuwan muda berprestasi (kategorinya usia di bawah 45 tahun) di Jepang. Undangan untuk menghadiri penghargaan ini datang di setiap meja praktikum kami, dan saya pun, bersama kira-kira 10 teman labotarium lainnya turut menghadirinya.

Akhirnya setelah menunggu-nunggu sekian lama, rombongan kami berhasil berhadap-hadapan langsung dengan Hideki Shirakawa, penerima hadiah Nobel di bidang kimia pada tahun 2000.

“Klik” bunyi shutter kamera benar-benar memuaskan hati kami. Senior saya yang pada hari itu bertugas sebagai sie dokumentasi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Untuk sesaat kami gugup dan tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Hati saya berdebar-debar karena sejak seminggu yang lalu saya memutuskan datang bukan hanya untuk menghantarkan profesor saya memperoleh penghargaannya saja tapi juga untuk berbincang-bincang langsung dengan penerima hadiah Nobel, Hideki Shirakawa, yang kebetulan adalah salah satu anggota tim juri IBM Science Award ini.

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan juri untuk menentukan siapa pemenangnya?” Sikutan teman saya memberikan dorongan spontan, dan saya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Sesaat saya bisa merasakan tarikan nafas lega teman-teman karena ada pertanyaan yang diajukan sehingga kami tidak langsung pergi setelah berhasil berfoto bersama.

“Ooh..ya prosesnya bertahap, mula-mula ada beratus-ratus kandidat.” Jawabnya dengan suara yang relatif kecil dan pelan.

Hideki Shirakawa, usia 67, lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di tengah-tengah pegunungan. Ia besar di tengah-tengah alam, berlari-lari di pinggir sawah-sawah, mengumpulkan serangga, berenang-renang di sungai dan menangkap belut. Ia hanyalah anak kecil biasa yang lebih banyak main daripada belajar. Tapi justru keakrabannya dengan alam inilah yang membuatnya tertarik untuk memperhatikan hal-hal kecil, mengutak-atik mesin dan selalu punya rasa ingin tahu terhadap benda-benda di sekelilingnya, bahkan dari sejak ia masih berusia belasan tahun. Tanpa sadar, alam telah menganugerahkannya sikap-sikap ideal yang diperlukan untuk menjadi seorang peneliti.

“Mengurangi kelemahan plastik yang ada sekarang dan membuat bermacam jenis plastik baru.” Demikianlah cita-citanya sebagaimana yang tertulis pada buku album kenangan SMP-nya. Ia sendiri mengaku tidak ingat apa yang membuatnya menulis demikian. Perjalanannya menuju hadiah Nobel dimulai oleh sebuah kegagalan praktikum.

Pada musim gugur 1967, Shirakawa yang waktu itu menempati posisi research associate di sebuah laboratorium di Tokyo Institute of Technology, kebingungan karena usaha seorang anak didiknya untuk membuat polimer poliasetilen tidak berhasil. Tujuan praktikum pada waktu itu ialah untuk menyelidiki mekanisme polimerisasi poliasetilen dengan menggunakan katalis Ziegler-Natta. Dengan cara biasa, polimer poliasetilen didapatkan dengan bentuk bubuk hitam, tapi kali ini, yang didapat hanyalah beberapa pecahan dari lapisan tipis berwarna perak mengkilat. Percobaan dianggap gagal dan diulangi kembali. Namun tidak peduli berapa kali pun dicoba, bubuk hitam yang diharapkan tidak berhasil mereka dapatkan. Belakangan Shirakawa baru menyadari bahwa jumlah katalis yang dipakai dalam eksperimen itu salah. Katalis yang seharusnya cukup dipakai sebanyak x mmol, dipakai sebanyak x mol. Sampai sekarang pun ia tidak tahu apa yang menyebabkan kesalahan yang boleh dibilang cukup konyol ini sampai terjadi. Apakah ia yang salah tulis, atau anak didiknya yang salah baca.

Dengan digunakannya 1000 kali lipat katalis dari jumlah yang seharusnya, reaksi pun berlangsung lebih cepat 1000 kali lipat. Akibatnya seluruh gas asetilen tidak terpolimerisasi dengan sempurna, dan hanya bagian permukaan yang bersentuhan dengan katalis saja yang sempat menjadi polimer.

Prof. Alan G. MacDiarmid dari University of Pennsylvania yang tertarik dengan hasil penelitian ini mengundang Shirakawa untuk meneruskan penelitiannya di laboratoriumnya di Amerika dan Shirakawa menghabiskan setahun di sana. Pada saat itu ia juga berkenalan dengan Prof. Alan J. Heeger yang kelak turut memperoleh hadiah Nobel bersama Shirakawa dan MacDiarmid.

Sebuah tonggak sejarah dalam penemuannya juga mengambil tempat di sana. Pada saat itu, Shirakawa penasaran melihat cahaya poliasetilen film ini. Ia berpikir, kalau polimer ini berkilau-kilau seperti logam, jangan-jangan polimer ini punya sifat penghantar listrik seperti logam? Tebakannya itu ternyata terbukti ketika jarum elektrometer yang dipakainya untuk mengukur konduktivitas (daya hantar listrik) ini meloncat dengan mendadak pada saat ia dan seorang ilmuwan lainnya menambahkan bromin pada poliasetilen film. Inilah titik awal lahirnya plastik penghantar listrik.

Elektron dari rantai karbon poliasetilen yang bersemayam dengan nyamannya, tiba-tiba direnggut oleh bromin, sehingga terjadi kekosongan muatan negatif yang menyebabkan terbentuknya karbokation (soliton bermuatan positif). Kurangnya muatan negatif pada satu karbon membuatnya menarik elektron dari karbon tetangga yang kemudian juga terpaksa menarik elektron tetangganya untuk memenuhi kekurangan ini sehingga terjadilah arus elektron pada poliasetilen ini.

Penemuan Shirakawa, yaitu polimer konduktif, dapat kita temukan di sekeliling kita. Misalnya baterai telepon genggam dan touch-screen (layar monitor yang bereaksi kalau disentuh).

“Bagaimana Bapak biasanya menentukan tema riset? Apakah Bapak lebih cenderung melakukan penelitian di ilmu-ilmu dasar atau ilmu-ilmu aplikatif yang bisa langsung berguna untuk masyarakat?” tanya seorang teman yang kebetulan berdiri di samping saya. “Ah, saya tidak pernah berpikir seperti itu. Yang penting saya melakukan apa yang saya suka.” jawabnya dengan tersenyum ramah. “Walaupun kelak tidak berguna?” tegas teman saya sekali lagi. Dia memang sudah bertekad untuk melanjutkan ke program doktor. Untuk dia, menentukan tema penelitian sama dengan menentukan masa depannya. “Yang penting kita lakukan apa yang kita suka, tapi juga kita jelaskan dengan mudah ke orang-orang lain supaya mereka bisa menghargai hasil jerih payah kita.”

Jawaban yang begitu sederhana. Sesederhana si penjawab sendiri. Rambutnya yang putih kekuningan membingkai wajah dan lehernya yang berwarna merah cerah. Sebagai orang penting, meneguk minuman keras yang dituangkan orang lain baginya adalah bagian dari tata krama. Tubuhnya begitu kecil dan rapuh, matanya yang kecil dan berkeriput dilindungi sebuah kaca mata. Penampilannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang ilmuwan raksasa.

Dan saya pun bertanya-tanya dalam hati, apa sih yang membuat kakek-kakek biasa ini meraih sukses yang begitu luar biasa itu? Sesampainya di rumah, ketika menghadapi layar komputer, saya baru mengerti. Shirakawa menolak untuk menerima kegagalan. Di saat beribu-ribu ilmuwan maupun mahasiswa di laboratorium membuang cairan-cairan kimia yang salah dibuatnya, di saat mereka menyerah setelah kegagalan beruntun dan memutuskan untuk mengubah tema penelitian mereka, di saat mereka menerima kegagalan sebagai kesalahan yang harus dilupakan dan diperbaiki, Hideki Shirakawa percaya akan kebenaran dalam kegagalannya.

sumber:chem-is-try.com

0 komentar »

Posting Komentar

Silahkan ada yang mau bertanya atau menambahkan!

Laman

Mobile Phone

Computer

Linux

blogging